Relationship – Marriage – Financial – Many Things

Recently plenty of thoughts in my head and I’ve decided to back to write again. Sekalipun pekerjaan di kantor menggila, aku akan mencoba menyempatkan diri untuk menulis. Entah  kenapa, aku tetap merasa menulis (dan musik!) selalu menyelamatkan hidupku sampai sekarang. Dan masih merasa tetap ingin mewujudkan mimpiku menjadi penulis kelak kalo sudah ngga kerja kantoran lagi (hahaah… Amiin…).

Again, di usiaku yang sekarang, sepertinya sudah sangat wajar ya kalo di suatu tempat umum seperti mall misalnya aku melihat pasangan muda dengan anak mereka yang masih bayi atau balita, rasanya mupeng gitu. Hahaa… Sepertinya memang sudah saatnya dan secara psikologis aku sudah siap. Tapi setiap aku cerita ke beberapa orang mengenai hal ini, kebanyakan reaksi mereka adalah, “Ya sudah, sudah siap kan? Umur juga sudah sangat pas, jadi nunggu apa lagi?” well, ada satu kendalanya yang sangat-sangat-sangat krusial. FINANSIAL.

Lagi-lagi ada kesan juga kalo membahas hal finansial ini seakan matre. Padahal ini sangat penting, krusial, dan faktor yang sangat-sangat utama dalam membangun biduk rumah tangga. Iyalah, masa nikah cuma modal kolor doang. Harus realistis lah. Jadi yang disebut dengan mampu dan siap ya salah satunya finansial ini. Dan dalam menjalin komitmen di usia sekarang lagi-lagi ya finansial menjadi fokus juga. Iyalah, udah bukan untuk main-main lagi, udah punya visi dan misi.

Apalagi seperti perkataan beberapa teman wanita, bahwa ketika kita telah berjuang sampai sejauh ini dalam karier dan memiliki penghasilan sendiri, otomatis kita para ladies akan memiliki standard tertentu juga. Lagi-lagi masalah finansial. “Kalo ngerasa udah ngga cocok dengan seorang pria, lebih baik tinggalkan. Sayang banget kalo harus mundur setelah pencapaian prestasi sampai sejauh ini hanya demi pria yang bahkan tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri secara finansial. Kecuali jika memang sudah menikah/berkeluarga, merasa tidak sanggup mengatur waktu antara keluarga dan pekerjaan, ya memang harus ada yang dikorbankan. Tapi kalo kamu sampai harus berkorban demi pria yang jauh di bawah standard, lebih baik tinggalkan pria itu. Jadi ya pastikan bahwa dia memang berarti n pantas untukmu sampai nantinya kamu harus mengorbankan karier.”

Okay, bisa dikatakan bahwa aku mulai realistis dan mengurangi idealisme feminisku. Bagaimanapun aku butuh seseorang untuk bersandar. Tapi sulit sekali mencari sosok yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalo berbeda karakter dan hobi ya wajar, anak kembar saja berbeda koq. Tapi justru dari perbedaan ini seharusnya bisa saling melengkapi. Dan tujuan orang menikah itu juga macam-macam kan. Aku ingin banget mendengar tujuan menikah agar mari kita sama-sama maju mencapai kesuksesan n menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Jadi ya bukan asal nikah juga. Aku sempet optimis, tapi sekarang malah jadi skeptic lagi deh. Apalagi yang ada di pikiranku baru-baru ini, aku ngga bisa membayangkan pasangan yang setelah menikah, biaya hidupnya masing-masing, jadi si suami tidak menafkahi istri dan anak tertentu (misal, suaminya hanya mau membiayai anak yang pertama, sementara anak yang ke-2 ditanggung oleh istrinya. Konyolnya lagi, istrinya ngga boleh kerja. Nah lho? Ada ya orang sinting seperti itu?). Entahlah, itu berarti kan tujuan menikah yang aneh. Yaa kasarnya sih begini… Ngga ada cewe yang mau dipersunting secara gratisan dan disentuh sepanjang hidupnya oleh suaminya secara gratisan. Iya kan?

Tapi sepertinya aku lebih memilih untuk tidak pacaran. Aku merasakan lebih banyak sakit hatinya, terutama apabila kesepakatan/aturan pacaran yang sudah dibahas di awal menjalin komitmen malah dilanggar akhirnya. Dan kenapa sih cowo kalo dibaikin sdikit aja malah ngelunjak? (jadi curcol, hahaa…) Okay, aku pribadi lebih memilih penjajakan. Jadi kalo tidak cocok ya udah, bubarnya pasti tanpa ada sakit hati. Atau lebih baik jadi teman atau sahabat saja dulu (bukan teman tapi mesra lho ya…), toh dari situ kita juga bisa mengenal lebih jauh, lebih baik dan tulus kan… beda dengan pacaran, yang notabene banyak curiga dan pura-pura. Toh, kalo dia benar-benar tulus dan sayang, ketika sudah merasa siap pasti akan datang melamar (ini teori beberapa teman sih… Pengalaman mereka). Daripada udah deket, pake hati, ngga mau lepas, banyak janji, akhirnya putus dan sakit hati. Banyak juga sih mereka yang setelah putus bisa menjadi teman… Dengan mudahnya melupakan rasa sakit dan ya jadi teman saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku pribadi tidak bisa seperti itu. Rasanya malah jadi aneh, jengah, canggung, dan jadi ngga nyaman sendiri. Butuh waktu juga untuk memahami karena prinsipku adalah tidak ada hubungan pertemanan yang diawali dengan rasa sakit hati. Tapi semoga saja aku salah dan bisa menjadi jauh lebih toleran di kemudian hari.

Aku mengutip paragraf bijak, broadcast dari temen-temen BlackBerry Message dan Facebook. Aku tidak tahu dari mana sumber aslinya jadi tidak bisa kucantumkan URL nya:

“Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain. Itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua sudah siap, maka kebersamaan itu bisa menjadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.

Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan, nilai-nilai agama. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.”

At least, it gives me hope.

Btw, good news, about my older sister. Dia merampungkan novelnya in English, sekarang sedang dalam tahap editing untuk di-publish. Can’t wait for that, Sis 🙂 Mungkin begitulah… Aku percaya adanya karma dan hukum alam… Aku percaya bahwa doa dan usaha keras orang-orang yang tersakiti akan lebih dulu didengar oleh Penguasa alam semesta dan jagat raya ini. Dan insya Allah mereka akan mencapai kesuksesan jauh dari dugaan orang. Wallahu’alam. It gives me hope again.

Just sharing some experiences. Thank u for reading.

Semoga bermanfaat. Peace for the world.

Advertisements

~ by Rizki on November 9, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: