Let’s Talk About Education (and… Women)

Postingan yang sekarang ini justru terinspirasi dari postingan sebelumnya. Itu pun karena obrolan dengan beberapa teman (cewe n cowo) juga. Jadi… Sebenarnya aku masih mengerutkan kening mengenai perkataan 2-3 orang teman pria, yaitu: “Cari calon istri yang mau diajak susah”. Pertanyaannya adalah: Diajak susah seperti apa? Dalam pernikahan ya memang benar susah senang dihadapi bersama. Tapi masa mau hidup susah terus. Kalo seperti itu ya sekalian saja cari calon istri yang tidak berpendidikan biar mau diajak susah terus-menerus. Istrinya mau diajak susah biar suaminya ntar yang nggak susah begitu maksudnya? Aku jadi semakin bertanya-tanya, memang ada ya orang yang punya tujuan hidupnya untuk mau diajak susah?

Dan mereka yang melontarkan settlement itu pun adalah orang yang berpendidikan. Okay, maybe it’s just me yang berpikirnya terlalu jauh dan berlebihan. Tapi, please, Guys… Intinya adalah, esensi dan fungsi dari pendidikan itu sendiri adalah sebagai bekal u/ memperbaiki taraf hidup masyarakat. Aku mengesampingkan ijasah dulu u/ hal ini karena ijasah cenderung simbolis. Esensinya adalah skill, pengetahuan, pengalaman yang kita dapat untuk dapat meraih kehidupan yang lebih baik. Aku ingat dosenku dulu pernah bilang, “Ijasah itu hanya simbol, mari kita lihat seberapa kuat kalian sanggup bertahan dalam menghadapi badai di luar sana ketika kalian terjun ke masyarakat.” Nah, yang mengherankan adalah ketika para teman-teman pria yang masih mencari calon istri yang bisa diajak susah. Entah kenapa, aku mendengar ada nada pesimis dari pernyataan itu. Lha, Anda punya bekal ilmu yang cukup, koq malah lebih memilih untuk hidup susah?

Aku mengalami betul apa yang dikatakan dosenku itu. Ayahku sudah meninggal bahkan sebelum aku lulus kuliah, aku masih punya adik cewe yang baru mau masuk kuliah saat itu. Itu berat, kami semua wanita, tidak ada anak laki-laki di keluarga, jadilah sejak pertama kali aku bekerja hingga sekarang aku benar-benar merasakan terpaan badai itu. Aku berjuang berdiri dengan kakiku sendiri selama ini, nomaden berpindah dari satu tempat ke tempat lain, jauh dari rumah (aku bahkan sekarang sudah ngga tau rumahku yang mana… Hahaa…). Aku ngga yakin bisa bertahan kalo aku ngga berpendidikan dan tanpa keahlian. Sekarang adikku sudah lulus, Alhamdulillah dan sudah diterima kerja dan memperoleh gaji pertamanya. Rasanya lega dan beban ini mulai berkurang. So, rasanya gemes aja ketika mendengar teman-teman pria, dengan hidup mereka yang normal dan nyaris lurus-lurus saja (ok, aku tau setiap orang punya masalah, tapi kalian kan pria, ayo, belajar untuk berani ambil risiko), dengan bekal pendidikan dan keahlian yang mereka miliki, malah lebih memilih untuk hidup susah dan mencari calon istri yang bisa diajak susah. #tepokjidatoranglaen#

Seperti kata almarhum ayahku dulu, hidup ini harus ada goal, kita harus punya tujuan. Tidak masalah jika kamu harus memulainya dari nol. Yang penting tujuannya jelas. Ada visi dan misi. Harus berani menghadapi tantangan. Begitulah hidup. Dan kata dosenku yang lain, long life education. “Anda lulus kuliah lalu terjun ke masyarakat, Anda belajar. Anda menjalin hubungan dengan pasangan, Anda belajar. Anda menikah, Anda belajar. Anda memiliki anak, Anda belajar. Anak Anda mulai masuk sekolah, Anda belajar. Begitu seterusnya.” Mirip lagunya Alanis Morissette, “You Learn.”

You live you learn

You love you learn

You cry you learn

You lose you learn

You bleed you learn

You scream you learn

And now, kaitannya dengan women. Baru-baru ini ada seorang teman wanita di Facebook yang menulis di statusnya bahwa baru saja dia menghadiri sebuah seminar di mana si pembicara merupakan sosok wanita yang begitu sempurna menurut dia. Bayangkan saja, si pembicara ini dia sangka berusia lebih muda, ternyata seumuran (pertengahan 30-an), dengan gelar Master dan sebagai kandidat untuk gelar Doktor. Dia sangka masih single, ternyata sudah memiliki 3 orang anak. Itu suatu pencapaian/prestasi yang luar biasa. Itulah, kembali lagi, kita harus punya goal, harus memiliki tujuan hidup dan life planning itself.

Ada istilah “Di balik kesuksesan pria selalu ada wanita hebat di sisinya”. Aku tahu aku sendiri belum mencapai kata hebat itu, karena aku juga masih berjuang seorang diri. Apalagi untuk menjadi sosok sesempurna pembicara di seminar yang kuceritakan tadi. Tapi untuk menjadi seseorang yang bisa memotivasi, mendorong, bekerja sama dan berbisnis dengan suami kelak hingga dia mencapai kesuksesan adalah impianku sebagai istri nanti. Amiin.

For another inspiration, check this out:

http://www.andriewongso.com/artikel/viewarticleprint.php?idartikel=3612

Semoga bermanfaat. Peace for the world.

Advertisements

~ by Rizki on November 1, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: