Make Up Disaster & New Year 2012 Resolutions

Aku tidak menemukan judul yang tepat untuk postingan ini, hahah. But, I think I need to write this. Well, asal muasal ide untuk nulis postingan ini adalah karena sekarang sudah akhir tahun. Orang-orang tampak mulai sibuk dengan resolusi tahun baru mereka. Dan, lucunya, entah kenapa beberapa teman malah meminta dan mendorongku untuk membuat resolusi tahun baru 2012 yaitu untuk mengubah penampilan. Saat itu kejadiannya tentu saja sambil chit n chat dan bercanda. Dari subjek “mengubah penampilan” tersebut mulailah keluar kalimat seperti: “2012 mulai pake make up ya, lipstick dong jangan hanya lipbalm berwarna, blush on ditebelin, pake rok, hi-heels. Rambut dipanjangin. Handbag cewek. Hot pants juga sekalian deh, Ki.” (Beuh, rempong amat ya…) Dan kami pun tertawa. (Bagi kalian yang belum tau deskripsi penampilan dan karakterku seperti apa, silahkan baca 100 Things About Me, ya… dan baca postingan lainnya di blog ini juga. Hahah…).

Aku hanya bilang bahwa aku tidak menjanjikan apa pun. Tapi tentu saja aku punya resolusi tahun baruku sendiri. Tiba-tiba, start dari bagian itu, seorang teman pria ngomong dan seketika itu juga suasana jadi lebih serius dan tidak terasa santai lagi. Yah, intinya sih dia bilang bahwa, seharusnya, bagi para wanita, dari sejak mulai mendapatkan menstruasi pertama, harus mulai belajar bersolek dan merawat diri untuk menebar bunga (baca: memikat pria) sehingga di usiaku yang sekarang seharusnya aku sudah pandai bersolek dan dibanjiri pria. Plus ada tambahan kata-kata seperti, “Kamu kan udah dewasa, seharusnya udah ngerti.”

Suasana langsung hening. It felt so weird, really. Ya know, dinasehati seorang teman pria mengenai penampilan kita seharusnya seperti apa untuk memikat pria. Orangtua gua aja nggak sampe segitunya. Kalo merawat diri sih emang udah kulakukan dari sejak zaman SMP-SMU (ya know, remaja kan nggak jauh-jauh dari yang namanya bau badan dan jerawat saat itu… dan terbukti sekarang nih muka nggak sampe punya bekas jerawat gitu koq. Paling ya komedo dikit. Sempet pernah nyoba totok wajah. Tapi itu kan cukup sesekali aja… Kalo punya duit lebih, hahah). Dan definisi mengerti mengenai itu sesungguhnya relatif. Make up merepresentasikan banyak hal, pro dan kontra, good side and bad side. Paradoks yang kompleks. Itu yang aku mengerti mengenai make up. Sesuatu yang dibahas pada kuliah women study, women and media (inget definisi cantik ala media untuk para wanita? Bahwa definisi wanita cantik itu adalah tinggi, langsing, berkulit putih, serta ber-make up sempurna?), dan bahkan agama (I’m a Moslem, so modest lifestyle is my family’s choice). Dan peranku saat ini sebagai tulang punggung keluarga bagaimanapun juga membuatku lebih memikirkan keluargaku terlebih dahulu dibandingkan egoku untuk tampil cantik. Buat apa cantik tapi bodoh? Buat apa bersusah payah untuk terlihat cantik tapi tidak memedulikan lingkungan sekitar? Inget selebritis kita yang menghabiskan uang hingga ratusan juta rupiah hanya untuk foto pre-wedding? Bukankah uang sebanyak itu akan lebih berguna bagi mereka yang lebih membutuhkan?

Yah, so I told him that even my parents never said that to me. And dia bilang bahwa orangtua kita hidup di zaman dulu jadi ya memang berbeda dengan tuntutan kehidupan di zaman sekarang. Suasana jadi dingin setelah itu. Temen-temen yang lain yang ada di TKP saat itu jadi terdiam dan bingung harus bereaksi gimana. Dan sejak itu, hingga sekarang aku jadi agak males untuk chit n chat rame-rame lagi. Well, okay, my mum dulu saat masih gadis dan jadi wanita karier memang sering berdandan, pake rok, dan hi-heels, until she married my dad. Kami, anak-anaknya, tiga orang cewe semua, tapi didikan (alm.) bokap semi-militer. Dan nggak kebayang deh kalo aku mengenakan semua yang tadi disebut teman-temanku di atas. Bokap pasti bakalan komentar, “Mau dipake untuk ke mana emangnya? Jangan kayak artis deh. Ke mana-mana kan kamu naek angkot bukan limousine.” Hahah. Sementara kalo komentar nyokap lebih untuk menyarankan dandan sewajarnya saja. Waktu dulu rambutku pernah panjang jadi otomatis kan butuh perawatan ekstra, apalagi kalo mau pergi ke mana pasti kan mikir dulu mau diapain nih rambut. Sementara bokap dah nglaksonin and teriak, “Lama amat sih? Yang gesit dong, buruan.” Dan ketika rambutku akhirnya pendek, bokap bilang, “Nah, kalo gitu kan cakep. Lebih fresh.” Yeah, bokap nggak suka tipe yang menye-menye. Dan mungkin juga karena sebenernya dari dulu bokap pengennya punya anak cowo. Pernah waktu zaman awal-awal kuliah aku beli rok panjang yang girly dan manis gitu, bokap tertawa dan ngomong, “Yakin mau pake itu? Kalo nggak merasa nyaman nggak usahlah”. Akhirnya rok itu nggak pernah aku pake. Dan beberapa bulan kemudian aku cari rok itu di lemari baju, aku nggak menemukannya. Dah dijual atau dikasih ke orang lain mungkin ya, heheh. Terus, oh ya, waktu aku bilang bahwa aku ikut judo, nyokap khawatir sementara bokap bilang. “Oh, bagus. Kenapa nggak dari dulu?” Hahah. Tapi aku mulai fitness setelah bokap sudah tidak ada dan nyokap mendukung penuh atas keputusanku untuk memiliki tubuh atletis dan berotot. Yeah, kalo untuk masalah badan, ortuku sangat care. Mereka nggak mau anak-anaknya overweight dan kami sering disuguhi sayuran dan menghindari junk food. Mereka juga nggak mau anak-anaknya bertubuh kurus bak model sehingga terlihat tidak sehat. Nyokap dulu atlet voli tingkat propinsi. Bokap hingga sebelum sakit dan meninggal selalu rajin push up dan sit up. Dan di masa pre-teenku ketika aku paling malas olahraga, setiap hari Minggu aku selalu harus bangun pagi, lari keliling lapangan voli di depan rumah dan berjemur di bawah sinar matahari pagi, dan push up serta sit up! Dan kebiasaan itu masih kulakukan sampe sekarang, hampir setiap pagi aku push-up dan sit-up, kecuali untuk lari, karena agak susah nyari lokasi yang nyaman di area sini (kalau waktu di Bandung biasanya aku langsung berangkat ke Sabuga ITB), jadinya kuganti dengan sepeda statis di gym atau dance aerobic sendiri di kamar pake video fitness/aerobic gitu. Oh ya, sekarang aku sudah punya dumbles 2 kg sepasang beli yang murah dan diskonan, hahah.

So, sebenernya, kemarin ini setelah temenku itu ngomong begitu, aku sempet jalan-jalan ke mall untuk liat-liat make up. Tapi ketika tiba-tiba teringat bokap dan kakakku saat itu (yang sedang dalam proses cerai. Dan masalah hak asuh 2 orang anaknya pun sekarang sedang diproses), ada perasaan bahwa aku akan merasa menyesal kalo beli mahal-mahal tapi akhirnya nggak dipake atau malah nggak cocok dengan kulitku nantinya. Jadilah aku pergi menjauh dari counter tersebut dan malah jadi liat-liat buku di Gramedia. Malam sebelum tidur hari itu, kepalaku dipenuhi pikiran: “What was wrong with me today? Why did I almost do what people told me while I actually didn’t feel happy at all? Why did I have to do what he told me to do while he doesn’t know anything about me?” I’m exactly happy to become who I am. I don’t think I’m comfortable to dressed up like a bitch. Dan kalaupun aku terpaksa harus ber-make up, aku melakukannya secara wajar untuk diriku sendiri agar terlihat lebih fresh pada suatu acara dan untuk menghargai serta dihargai orang lain. Sometimes I think that putting make up on your face is a dishonest act. So, kalau dibilang untuk memikat pria, yah… aku juga nggak akan nyari pria yang menuntutku untuk selalu tampil sempurna tanpa cacat koq.

Pada postinganku yang agak lama di blog ini aku pernah nulis mengenai Amber Liu, personil girlband Korea f(x). Aku males upload fotoku sendiri di blog, jadi kudeskripsikan bahwa aku agak mirip Amber Liu sekitar 50 persennya. Separonya ya, karena penampilanku juga nggak seekstrem dia.

Okay, mungkin aku lebih mirip Ella Chen (personil girlband Taiwan SHE) hampir 80 persen, hahah.

And I’m jealous to them because with their boyish style and androgynous face, no one complain to them about it. Instead of complain, their fans think that they have made difference in their group (girlband) and respect their different style and love their styles! Aku kurang tau Ella Chen dan SHE sebenernya, jadi mungkin aku lebih merasa iri dengan Amber Liu karena dia jago dance, nyanyi, rap, dan fasih 3 bahasa (English, Chinese, Korean). And she feels comfortable of being herself. Lama-lama aku jadi males kerja kantoran. Lebih milih jadi rocker atau penulis aja sebenernya dan kerja di bidang entertainment, hahah.

Oh, well, baiklah, resolusi tahun baru 2012-ku adalah:

  1. Mulai meningkatkan intensitas traveling, pemanasan sebelum jadi backpacker beneran
  2. Semakin giat mencari uang, berinvestasi, menabung, dan menimbun kekayaan
  3. Stick to my fitness routine and my diet (hi-protein, calcium, fiber, & low-carbo) untuk memahat otot lagi
  4. Meningkatkan intensitas menulis (blog ini, terutama. Sisanya, coba buka novel karangan sendiri yang terbengkalai lagi) dan membaca (tahun 2011 ini aku bener-bener jarang baca buku. Lebih fokus untuk menabung dulu)
  5. Well, okay, agak mengubah penampilan. Mungkin sedikit memperjelas make up yang dipake (blush on dan lip colour/lipbalm, lipstick, terutama). Tapi gaya tetap androgyny, well, sweet androgyny, I guess.  Rambut agak dipanjangin sedikit sampe bahu deh. Well,  gaya Agyness Deyn cukup memberikan inspirasi…

                                   

Atau Emma Watson dengan rambut pendek

Atau Mia Wasikowska dengan rambut pendek juga…

       6.   Work hard, play hard, sleep hard… To inspire and to be inspired!

        7. Organize my life…!

Okay. Happy new year 2012. Peace for the world.

References:

Google Image

Advertisements

~ by Rizki on December 30, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: