My Mom Said, ”Marriage Is Like A Lottery”

Okay, ide untuk menulis postingan ini udah dari beberapa bulan lalu munculnya, tapi karena tidak punya cukup waktu untuk menulis dan berkontemplasi, serta ternyata selama di-pending itu perlahan terkumpul hal-hal dan fakta-fakta yang semakin menambah bahan untuk postingan ini, and now, ta-da…! Akhirnya sekarang bisa nulis juga (meskipun kamar masih berantakan dan belum sempet diberesin).

Ini aja udah diketawain oleh beberapa teman yang terheran-heran because I have to spend my Saturday night just for writing, bukannya pacaran! And… isi postingan ini pun bagi kebanyakan orang mungkin akan terdengar pathetic. Well, am I the only one in this world who is not really into marriage?!

I’m not stupid, but maybe not so smart too. But, I always think that everything must be considered the good and the bad. Kenapa ya orang-orang selalu memikirkan pernikahan itu hanya indah-indahnya aja. Dan kebanyakan dari mereka ketika menganut sistem tersebut akhirnya pun menyesal di kemudian hari. Jujur, aku pribadi lebih memilih untuk menikah di umur 30-an (saat kondisi mental sudah lebih stabil dan lebih matang dalam berpikir dan bersikap) tapi awet sampe mati daripada menikah di usia yang begitu muda atau 20-an tapi kemudian menyesal dan harus cerai (umur segini aja gua masih ababil gitu loh! Mata masih suka jelalatan ke mana-mana setiap ngeliat cowo ganteng. Dan sering dipanggil “ade”, beneran kayak dulu-dulu kita ditanya sama om-om atau tante-tante dengan intonasi seperti, “Kelas berapa, De? Sekolah di mana?”). Dan pengennya punya anak cukup 1 aja, paling banyak 2 lah (itu pun kalo iya dikasih n diizinkan YME kan?) And I have my own dreams that I pursue before I have to settle down with a man for the rest of my life. I have places to go! I want to travel alone or with some friends/communities to some places as a backpacker. Aku lagi nabung mati-matian untuk bisa meluangkan waktu mungkin sekitar 6 bln, jadi backpacker ke beberapa negara sebelum melepas masa lajang. First destination: Singapore! Seorang teman pernah ada yang malah bilang gini, “Bukannya malah lebih enak kalo udah nikah dulu, Mbak? Jadi kan sekalian bulan madu bareng suami?” hey, itu sih cerita lain. Lebih dari sekali kunjungan akan lebih baik, hahah.

Well, kenapa aku bisa nulis postingan ini juga sebenarnya karena ada beberapa masalah keluarga yang semakin bertambah rumit sekarang ini. Termasuk salah satunya, mengenai perceraian. Aku tidak akan menuliskan mengenai hal itu habis-habisan di sini. Karena memang sangat complicated. Masalah dua insan yang akhirnya malah merambat ke mana-mana dan bikin hampir semua orang anggota keluarga turun tangan, buntutnya pun sampe ke pihak berwajib dan konsekuensinya bisa hukuman penjara (sinetron banget gitu loh). Serius. Aku berusaha untuk tidak menyalahkan kedua orang ini (terutama yang dari pihak keluargaku, my own old sis), meskipun dari awal aku tahu hubungan mereka tidak akan baik karena dari awal pun keluarga kami dan keluarga pihak sana hubungannya udah tidak baik. Sebulan ini aku lebih banyak diam di kantor (karena bawaannya uring-uringan terus) sampe beberapa temen pada terheran-heran. Ditambah, juga karena ada beberapa lelucon teman yang tidak bisa kuterima dan membuatku tersinggung terkait dengan situasi (mood dan background keluarga) saat ini. Berjuang keras untuk ikhlas, yang rasanya sungguh berat. Mood seringkali kacau, but the good side is, jadi rutin fitness to bring back good mood. Well, I can only pray the best for them and try to help her as long as I can. Like my mom said, “Marriage is like a lottery. Ada yang beruntung dan ada yang nggak…” well, siapa sih yang nggak mau rumah tangga harmonis dan awet terus until the end of time? Tapi kalo pun kita ternyata telah ditentukan bahwa yang terbaik untuk kita yaitu perceraian, bagaimana? Masa mau nolak? Beruntung atau tidak, I don’t have problem to have life like those, eventhough divorce sucks. Sayangnya, society di negara kita selalu menuntut kita untuk punya kehidupan yang sempurna: ya know, pacaran-menikah-punya anak-keluarga harmonis-pendidikan anak baik-menikahkan anak-punya cucu-punya cicit-terakhir, rest in peace. Whatsoever. Too bad, happy ending never exist in this world, it exists only in fairy tales (sorry, I’m not a big believer of happy ending). Rite now, I’ll do my best for my family, for my mom and my own sisters… Because, saat perceraian itu terjadi, atau divonis sakit berat, atau kematian pasangan misalnya, bagaimanapun kita akan kembali lagi ke keluarga kita sendiri.

So, for me, Romeo was a loser. Apa yang dia lakukan tidak akan pernah menyelesaikan masalah sesungguhnya. Kalo hubungan keluarga Montegue dan Capulet memang sudah tidak baik sejak awal, tentu saja it’s not gonna work. At all. Sorry, skeptic in here. And while some guy said, “I can’t live without you. I’d rather die than live without you” (Eits, koq jadi lirik lagunya Backstreet Boys – I’ll Never Break Your Heart ya… Wkakwakakak…!) menurutku itu udah lampu merah. Seorang pria sejati or gentleman akan menerima dengan lapang dada apa pun konsekuensinya dan siap berjuang menghadapi rintangan apa pun dalam hidup ini. Termasuk dalam hal patah hati dan kehilangan pasangan hidupnya. Paling itu cuma gertakan (kalo nggak mau dibilang rayuan). Coba kasih pisau sekalian, mana mau dia mati konyol. Entah napa, kata-kata seperti itu sudah mengurangi kualitas seorang pria di mataku. So, if I were Juliet (and Thank God, I’m not and I’d never gonna be like her), I’d rather continue my life, obeying my parents, work and make a lot of money (Yeah, Money! And I’d be a total workaholic!), but still say my opinion to my parents that I won’t married a man who I don’t love (Hmm… Terdengar Jane Austen sekali bukan?).

And I actually have problems with guys recently. Gua sih berusaha untuk jadi orang baik dan ramah ya selama ini. Tapi kalo mereka tiba-tiba ngelunjak pake maen colek atau tiba-tiba nyomot tangan seenaknya atau melontarkan kata-kata tidak senonoh, gua nggak segan-segan murka and ngajak ketemuan di ring tinju. Atau kalo nasib mereka masih lebih mujur paling gua ceritain di blog ini abis-abisan lengkap dengan nama mereka gua sebut di sini dan blog ini gua link ke orang banyak biar mereka tau.

Okay. Udah dulu ah. Btw, tidak terasa sudah mau akhir Desember. Sebentar lagi tahun baru. May a better life and year wait ahead!

Wish me luck. Peace for the world.

Listening to : Linkin Park – From the Inside

Advertisements

~ by Rizki on December 21, 2011.

3 Responses to “My Mom Said, ”Marriage Is Like A Lottery””

  1. Pembahasan yang menarik. Sehubungan dengan topik hubungan cinta dan pria sejati, saya ada menulis tentang Gentleman = Bawain Tas Cewek? Silakan dibaca untuk menambah pencerahan. 🙂

  2. gag kelamaan pacarnya nunggu t mbak??
    hehe

  3. @Lex dePraxis
    Baru baca sekilas posting Anda. Akan saya baca lebih detail lagi di lain kesempatan. Belom bisa komen dulu, tapi satu hal yang pasti… saya selalu bawa tas ransel/backpack ke mana-mana, kecuali ke acara kondangan (tas ditaro di mobil atau ditaro di mana dulu yg aman gitu). Heheh….

    @Yourha
    Saya belum punya hubungan/komitmen serius dengan pria. Jadi ya memang belum mengarah ke jenjang pengikatan juga. Thanx for comment. Baru aja berkunjung k blogmu n baca-baca sekilas. Nice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: