Mother and Daughter

Orang-orang bilang yang paling mampu memahami perasaan seorang ibu adalah anak perempuannya. Orangtua mungkin boleh bangga memiliki seorang anak laki-laki. Namun kasih sayang seorang anak laki-laki kepada ibunya kerapkali tidak mampu menandingi kasih sayang seorang anak perempuan kepada ibunya. Kasih sayang anak laki-laki kepada ibunya lebih cenderung karena selama ini ia merasa dimanja dan membutuhkan tangan terampil ibunya untuk merawatnya selama ini. Sementara kasih sayang anak perempuan kepada ibunya adalah karena ia merasa memiliki jenis kelamin yang sama, seorang wanita, perasaan, fisik dan kondisi biologis yang sama, yang  semakin mempererat tali ikatan ibu-anak tersebut.

Ibuku adalah seorang janda dengan tiga orang anak perempuan. Aku berada di usia produktif seorang wanita yang mungkin seharusnya sibuk dengan kehidupan pertemanan, percintaan, dan karir, bahkan beberapa ada yang telah memutuskan untuk berkeluarga. Aku anak tengah. Aku masih memiliki seorang adik perempuan yang masih menuntut ilmu di bangku kuliah. Seringkali sulit sekali menjelaskan ke teman-teman mengenai pemikiranku mengenai misalnya, tidak ingin menikah dalam waktu dekat, pengen bantu ibu dan adikku dulu, dan lain sebagainya, sehingga apa boleh buat, aku lebih memilih keluargaku dibandingkan teman-temanku. Aku lebih memilih keluargaku dibandingkan menjalin tali kasih dengan seorang pemuda. Aku lebih memilih keluargaku dibandingkan meneruskan pekerjaan lamaku.

Orang lain hanya bisa bilang, “Mamamu nggak nikah lagi?” atau “Tapi kamu juga harus mikirin dirimu sendiri juga, keluarga jangan dijadikan alasan untuk menunda menikah. Justru nanti kalo dah menikah pasti dimudahkan jalannya… blah-blah-blah. Emang  mau sampe kapan ngurus orangtua mulu?”

Mereka ngomong seperti itu dipikir pake otak dulu gak sih? Apakah hati mereka sudah sebuta itu sehingga lebih memilih mencintai orang lain terlebih dahulu bukannya keluarga sendiri dulu? Finansial keluargaku saat ini hanya untuk bertahan hidup, makan, dan biaya kesehatan. Mereka mau menjamin hidupku apa? Mau bantu biayanya? Enggak kan? Sok peduli banget sih? Ngurus orangtua akan kulakukan sampe akhir hayat, sekarang mau ngomong apa kalian? Bahkan ketika orangtua kita telah meninggal pun, kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengurus makamnya.  Dan nikah itu kan gak gratis. Nikah bukan hanya untuk 1-2 hari doank. Dan sungguh, aku semakin kesel karena yang bicara seperti itu adalah orang-orang yang secara penampilan terlihat saleh dan religius. Ah, sungguh, sekali lagi, hati dan akhlak jauh lebih penting daripada atribut keagamaan yang kita kenakan.

Ada seseorang yang kukenal (tetangga tanteku sebenarnya), dia adalah seorang wanita sukses yang baru menikah di usia 32 tahun. Kukatakan sukses karena dia sengaja berkarir dan ingin maju dulu demi membahagiakan ibunya yang seorang janda. Gajinya dolar, dia fasih 3 atau 4 bahasa, dia udah berkeliling ke banyak negara, termasuk bersembunyi di masjid Al Aqsa di Jerusalem ketika pasukan Israel menyerang. Perjalanannya yang panjang, berat, dan penuh perjuangan demi membahagiakan ibunya pada akhirnya membuahkan hasil yang setimpal. Dia akhirnya menikah dengan seorang dokter mualaf asal Jordania keturunan Korea. Sungguh akhir yang manis bukan? Dibandingkan dengan segera menikah tanpa modal apa pun, keluarga terbengkalai, anak-anak yang lahir gak diberi tempat tinggal, makanan, dan pakaian yang layak? Yah, garis takdir setiap manusia memang berbeda-beda sih… Ini juga terkait dengan keputusan yang kita ambil. Perubahan harus terjadi jika ingin maju. Tapi terkadang teman-teman kita sendiri mencap perubahan yang terjadi pada diri kita hanya dilihat yang jelek-jeleknya saja sebagai suatu kemunduran. Padahal mungkin bagi orang itu, perubahan itu justru baik dan membuatnya memperoleh semakin banyak kesempatan untuk maju.

Aku menulis postingan ini karena aku tengah memikirkan perkataan tanteku. “Tuh kan, kalo kita berhasil mengangkat nama orangtua kita, terutama ibu, meski mungkin perjuangannya lama, panjang dan juga berat, hasilnya akan setimpal, insya Allah.”

Sometimes, in this life, you just have to follow your heart. Semua keputusan dan perubahan yang terjadi pada diriku sekarang adalah untuk keluargaku, juga untuk hidupku sendiri tentunya. Amin.

I love u, Mum.

Wish me luck. Peace for the world.

Advertisements

~ by Rizki on November 6, 2010.

2 Responses to “Mother and Daughter”

  1. Follow your heart, listen to your Mom….
    restu Ibu akan mampu memberikan sukses dalam hidup…. apa pun bentuknya itu… 😀

  2. Amiien… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: