Women, Career and Girl Power

Postingan kali ini mungkin agak sedikit feminis (again, as usual). Bukan berarti gw gak butuh cowo nih maksudnya. Tapi terkadang gw suka heran dengan masyarakat yang menganggap pria sebagai sosok yang sangat mengandalkan logika, karena pengalaman gw sampe detik ini gw selalu dikelilingi cowo yang sulit berpikir panjang dan lebih sering mengandalkan ego serta nafsu mereka. Seringkali juga mereka mispriority, alias gak bisa menyusun daftar prioritas berdasarkan hal yang terpenting terlebih dahulu. Entahlah, mungkin ini hanya instingku saja sebagai salah satu dari sekian banyak cewe cadas yang aneh dan selalu mempertanyakan sesuatu secara terkonsep dan filosofis.

Gw baca di harian Kompas edisi Rabu, 13 Oktober 2010 ada artikel berjudul “Para Perempuan China Terkaya di Dunia”, bahwa tiga perempuan terkaya di planet ini adalah orang China. Rupert Hoogwerf, pendiri dan penyusun daftar kekayaan untuk Hurun mengaitkan sukses perempuan China itu dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan satu anak dalam keluarga, yang didukung dengan pengasuhan anak oleh nenek atau kakek. Hal itu memungkinkan perempuan-perempuan China berkonsentrasi membangun kerajaan bisnis. Masyarakat China dapat menerima perempuan bekerja di luar rumah. Ini merupakan faktor lain yang memberi konstribusi signifikan.

Oke, sayangnya pemerintah kita agak sedikit mengabaikan peran perempuan di masyarakat. Tapi kenapa kita harus menyalahkan pemerintah? Kenapa kita tidak memulainya dari diri sendiri dulu dan orang-orang terdekat? Terdengar idealis? Oke, ini realita dan faktanya: jumlah perempuan lebih banyak dari pria, apalagi mengingat bahwa Indonesia memiliki populasi terbesar ke-3 setelah India dan China (tapi tampaknya China sudah mulai menurun peringkatnya karena program satu keluarga hanya satu anak tersebut). Jumlah wanita dan pria kira-kira 60:40. Kenapa Indonesia tidak bisa berkembang di banyak bidang adalah karena kurangnya andil perempuan dalam pembangunan di ranah publik. Oke, anggap pria adalah tangan kanan (penghargaan u/ para pria nih) dan perempuan adalah tangan kiri. Manusia sebagai satu tubuh pasti harus menggunakan kedua tangannya bukan? Bukan tangan kanan saja atau tangan kiri saja. Menurut survei dan faktanya, perempuan lebih luwes ketika bekerja, untuk posisi dan tugas-tugas tertentu, perusahaan lebih membutuhkan tenaga kerja/karyawan perempuan dibandingkan pria. Potensi perempuan sebagai manusia di ranah publik sangatlah besar. Itulah kenapa gw suka geregetan sendiri kalo denger or ngeliat seorang suami melarang istrinya bekerja tanpa alasan yang masuk akal (kalo karena hamil, melahirkan, mengasuh anak yang masih bayi, sih wajar… Gw juga setuju akan hal itu. Tapi banyak juga koq para ibu yang anaknya masih balita juga tetap berkarir, salah satu contohnya adalah temen kerja gw, blognya dapat di-klik di sini).

Anehnya, fakta bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari pria malah digunakan oleh para pria itu sendiri untuk berdalih memiliki istri lebih dari satu. Apakah yang ada di pikiran mereka hanya itu-itu saja? Birth control deh… Populasi di Negara kita sudah membludak… Kelaparan dan kemiskinan sering kita temui di hampir setiap sudut negeri yang katanya negeri yang kaya… Pendidikan yang berkualitas mahal harganya… Apakah para pria tidak memikirkan hal itu? Sungguh ironis, ke mana logika mereka? Di dunia ini gak ada yang gratis, bahkan di suatu negara tertentu di belahan bumi ini udara yang kita hirup untuk hidup saja kena pajak tuh. WC umum aja bayar koq.

Jujur, gw pribadi berencana untuk hanya memiliki seorang anak saja kelak, ya 2 anak paling banyak lah. Makanya gw gak terburu-buru untuk segera menikah. Interview kemaren gw ditanya, “Sudah ada rencana untuk menikah?” dan gw jawab, “Tidak dalam waktu dekat”. Heheh… Yang nanya hanya nyengir. And… Beuuh, gw sempet dikira cowo pula, hahah. Dan akhirnya diminta untuk pake make up pas kerja nanti. Btw, lucu juga ngeliat reaksi orang-orang kalo gw masuk ke toilet cewe, ekspresi mereka kayak kalo gw ini salah masuk toilet gitu, heheh.

Wait, sudah dapet kerjaan baru? Gak juga sih… Tapi nggak bekerja selama 2 bulan aja dah bikin otak gw mati karena seakan gak ada stimuli yang masuk ke otak. Ini nih yang bikin cepet pikun atau terserang penyakit Alzheimer. Buset, gw gak bisa membayangkan kalo gw jadi ibu rumah tangga murni hanya mengurus rumah, anak, dan suami. Gak punya penghasilan tuh gak enak. Kalo jadi ibu rumah tangga dibayar dengan bayaran sepadan sih asik kayaknya. Bukan matre neh, melainkan realistis.

Btw, jadi kerjaan baru apa neh? Hahah… Sangat jauh berbeda dengan kerjaan sebelumnya. Bahkan, gak ada kaitannya samasekali dengan background pendidikan sarjana gw. Tapi di kerjaan yang sekarang English skill gw dipake dan sangat teramat dihargai. Waktu psikotes dan interview aja harus memperkenalkan diri in English satu per satu di ruang kelas. Oke, kerjaan baru gw adalah… Barista di Starbucks Coffee! Surprised, eh? Kalo untuk gaji sih relatif ya, tapi gw emang butuh suasana kerja baru yang asik. Tapi jujur, tau gak, gw belum pernah sekalipun ke Starbucks. Baik itu untuk ngopi maupun hanya nongkrong or hang out doank. Serius. Gw gak mau jadi semakin miskin soalnya. Dan gw pernah nyeletuk ke temen gw, kalo suatu saat nanti gw akan mampu menjangkau Starbucks (lebay.com) atau kalo perlu kerja di sana. Dan… Gw sendiri hampir gak percaya kalo celetukan iseng itu malah akhirnya menjadi kenyataan. Ya, ini peluang kan, kapan lagi dapet kesempatan untuk kerja di Starbucks? Tapi gila ya, gw sendiri gak percaya kalo gw telah mengkhianati studi ilmu sarjana gw n malah mengambil ranah kerjaan orang/jurusan lain di food and beverage retail (nyindir kk gw nih yang lulusan pariwisata… Heheh). And kalo harus nyamar jadi cowo lucu juga kali ya… Heheh, jadi kayak tokoh Goo Eun Chan di drama Korea Coffee Prince deh… Tapi coba and jalani dulu aja lah trainingnya… Lumayan untuk experience and nyoba pastry and beverage nya gratis… Heheh…

Tapi, mungkin hanya untuk pengalaman juga. Kadang sebel juga kalo sudah mulai merasa dieksploitasi. Terkadang sebenernya perusahaan yang butuh banget karyawan, jadi ketika kita terlihat rajin dan berdedikasi, kita mulai dimanfaatkan deh. Kalo dah begini asli gw kesel banget sebenernya. Mungkin terdengar arogan, tapi bagaimanapun masih bnyak perusahaan di luar sana yang lebih baik untuk skill kita dan menghargai kita. Semoga. Amin.

Last but not least, gw lagi tertarik dengan Amber Josephine Liu, personil Korean girlband F(X) yang boyish and tomboy abis. And kaget juga melihat usianya yang begitu muda, dia lahir tahun 1992 (baru genap 18 thn! Memulai debutnya juga sebelum berusia pas 17 tahun!), and she speaks fluent English (dia lahir di dan warga negara Amrik), Chinese (etnisnya dia, tapi keluarganya imigran dari Taiwan), and Korean (South Korea, negeri tempatnya merumput and berkarir, heheh). Gw selalu salut deh dengan etnis Chinese (Asia Timur deh pokoknya, termasuk Korea Selatan, Jepang, Taiwan juga) and orang-orang asing dari beberapa negara maju. Mereka tuh dah diajarin untuk berusaha, bekerja, dan menghasilkan uang sejak usia dini tanpa pernah termasuk kategori pengeksploitasian anak. Pola asuh mereka bukan tipe yang anak mau mainan misalnya, langsung dibeliin. Mereka malah menantang dan menstimuli si anak untuk berusaha mencari cara mendapatkan mainan tersebut dengan hasil jerih payah sendiri. Apalagi etnis Chinese di Amrik kayak si Amber ini kali ya. Btw, gw juga ada sedikit berdarah Chinese dari garis ibu lho… Meski gen tsb far from my great-great grandfather, tampaknya melalui perhitungan seleksi gen, gen tsb muncul lagi dan memilih untuk tampak di beberapa anggota keluarga dari garis ibu, termasuk gw. Makanya, kebanyakan sepupu-sepupu gw justru lebih terlihat pribumi, tp gw and beberapa orang dari keluarga ibu lebih terlihat seperti etnis keturunan. Dan jujur, di antara temen-temen yang asli/pribumi, gw sering berbeda pemikiran dengan mereka, terutama untuk masalah bekerja/etos kerja, language and other skill, penghasilan, karakter ambisius, keinginan untuk maju dan berkembang, disiplin, wawasan dan pengalaman, and respect the diversity, mungkin karena gw masih memiliki darah Chinese kali ya. Kan sampe ada pepatah, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China”.

Well, diakhiri saja deh. Here comes Amber… She’s in da house yo’…

Wish me luck.

References:

Kompas edisi Rabu, 13 Oktober 2010 “Para Perempuan China Terkaya di Dunia”.

Google Images and Amber Liu F(X) Facebook Fanpage (I don’t own those images above)

Advertisements

~ by Rizki on October 17, 2010.

One Response to “Women, Career and Girl Power”

  1. The content on this article is really a single of the most beneficial material that I’ve ever occur across. I love your publish, I’ll occur back to verify for new posts.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: