Home…?

The Meaning of Home

People said that home is where our heart is
But I wonder what it means while your heart is in nowhere

I’m wishing my family well
And don’t wanna see them cry
And don’t wanna let them down
And hope they would survive
In the house of wolves

But, I ask you to be true,
Is it still called a home when your heart refers to the grave?

(July 26, 2008)

I’ve written this poem some years a go at this blog and now I re-wrote it in this post to get some intros in here, heheh. Seriously, I’ve been thinking about that in these years, particularly after my father died. What is home?

Honestly, secara filosofis, gw suka bingung kalo ditanya “asalnya dari mana?” atau “asli mana?” I can not answer those questions. Bagi gw dari mana kita berasal bukanlah berdasarkan alamat kota sesuai ID or KTP, whatsoever. Berdasarkan pengalaman hidup, gw dah pindah kota dan rumah beberapa kali. Dan dalam waktu dekat (sekarang lagi beres-beres n packing) akan pindah lagi, tepatnya dekat kota kelahiran n masa kecil gw dulu, Jakarta.

Hidup berpindah-pindah n ketemu dengan banyak orang baru bikin gw jadi orang yang fleksibel tapi berprinsip. Mungkin karena terlalu fleksibel juga, terkadang gw jadi orang dengan karakter yang sulit untuk ditebak. Bisa dikatakan memiliki banyak topeng. Yep, karena gw cukup mudah mengikuti alur/arus lingkungan sosial orang-orang di sekitar berdasarkan kultur, etnis, ras, lifestyle, etc. Tapi pada prinsipnya gw bukan orang yang suka dituntut aneh-aneh. Intinya, oke, gw ngikut aturan yang ada, gw bisa koq, tapi tolong jangan ganggu gw atau menuntut gw untuk melakukan yang memang bukan tugas gw. Yah, lu asik gw santai, lu usik gw bantai gitu lah.

I love diversity. And I wish I can go to somewhere with many diversity n open-minded people (culture, ethnicity, etc). Seperti saat ini, aku akan pindah ke lingkungan kota besar. I’m very excited to meet new people. Pengen banget juga ke luar negeri untuk studi atau bekerja di sana (professional career loh ya, bukan TKI bo!). Anyway, thus, gw seringkali heran dan tidak mengerti jalan pemikiran orang-orang yang garis keras or fundamentalist gitu. Yah, whatever lah, asal nggak ganggu gw aja.

Cobalah untuk merantau. Nggak harus ke luar pulau, tapi cukup dengan beberapa tahun di luar kota, jauh dari keluarga. You will learn to depend on yourself. Heheh, gw pengen banget loh kerja di kapal pesiar gitu, but it’s not related to my major. Pada dasarnya gw emang gak betah untuk hanya menetap di satu tempat dalam kurun waktu yang lama.  Begitu pula dengan bekerja tampaknya. Nggak betah untuk berlama-lama duduk manis dan bertahan untuk fokus ke satu hal. Kalo dah keseringan seperti itu langsung sakit karena stress. Di kerjaan gw yang lalu, gw sering banget sakit, sebulan sekali pasti ada 1-2 hari gak ngantor karena flu/demam/maag gitu. Gw lebih kuat olahraga setiap hari daripada harus bekerja setiap hari! (Tau gini gw jadi atlet aja yah… Hahahaah!)

Repotnya jadi nomaden begini, makanya gw suka bingung kalo dah ditanya mengenai rumah. Apalagi ditambah dengan kalo pulang kampung n kumpul dengan keluarga itu bukan di rumah ortu gw. Rumah ortu dah dijual setelah bokap meninggal buat biaya hidup kami n biaya sekolah gw n adik gw. Sekarang, mau pindah, KTP gw pun akan berubah, dan gw ngikut dengan keluarga lain. Sekalian aja deh gw pengen homestay ke Inggris n tinggal ma keluarga bule di sana, heheh. Amieen.

Gw punya banyak rencana di tempat baru nanti. Gw juga berencana untuk menapaktilasi kehidupan gw di masa kecil dulu, di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Anehnya, baru-baru ini gw mimpi kembali ke masa-masa SD di Jakarta dulu. Dan gw sempet mengalami deja vu terkait dengan nama “Alvin” yg merupakan temen masa kecil dulu (kisahnya pernah gw tulis di blog ini koq. Gw sering berantem dengan dia, tapi pas gw sakit mata parah, dia malah jadi perhatian banget sama gw. Heheh. Cakep pula tuh anak, hahah. Gak tau deh dia masih inget gw apa nggak). Eh, malah dapet ide buat bikin cerita pula, hahah. For my novel perhaps. Kisah yang simple but deep. Cihuuy…

Bagaimanapun, gw bersyukur. I’m just an ordinary girl with an extraordinary life tampaknya. Gw mungkin terkadang nekat dalam menjalani hidup. Gw keras kepala n nggak suka didikte. Gw lebih suka hidup dinamis, nomaden,  keluar dari zona nyaman daripada tetap di posisi stagnan, jenuh n monoton. Gw mungkin agak cenderung risk taker. Entahlah, ini karakter bokap gw semua. Semenjak beliau nggak ada, gw merasa tak gentar menghadapi siapa pun yang mengganggu gw. Cowok-cowok nongkrong di pinggir jalan yang ganggu gw pas gw lewat aja gw bentak n pelototin, hahahah. Habis siapa lagi yang harus gw andalkan? Orang rumah semua malah yang mengandalkan gw. I have to become stronger, fitter, n more independent. Karenanya, gw bakalan susah nyari pasangan neh tampaknya, heheh. Harus yang tahan banting, dalam arti yang sesungguhnya, karena kalo lagi kesel gw pengennya banting orang. Hahah. LOL.

Anyway, gw gak ingin menoleh ke belakang lagi. Ada momen-momen di mana gw berada dalam puncak trauma n depresi setelah kejadian itu. I wanna move on. I wanna meet new people and friends. Dan jujur, gw pengen meninggalkan beberapa temen lama yang gw rasa sudah sangat memiliki perbedaan jalan pemikiran dengan gw. Tolong ya, kalo kalian merasa temen gw, gak usah nuntut or dikte gw macem-macem lah. Jalani saja hidup masing-masing. Okay? Yah, pokoknya gw pengen banget berada di tempat yang benar-benar baru. Kalo bisa pengennya sih ke luar negeri lah, yang jauh dari orang-orang menyebalkan yg gw kenal sekalian.

Okay. Wish me luck.

Advertisements

~ by Rizki on August 6, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: