Re-arranging My Life

Untuk bertahan hidup kita memang harus berani mengambil keputusan. Decision that best for you, and don’t have to listen to what people say.

Sudah cukup untuk selalu berkorban demi kebahagiaan orang lain. Sudah cukup untuk selalu ada di tempat jika orang lain membutuhkan. I’m tired. I have my own life. And this is time for me to reach my own goals, dreams, and happiness.

Selama ini aku merasa tanggung jawab ada padaku. Beban keluarga adalah beban utama yang harus kupikul. Tugas-tugas yang kupikul harus kukerjakan dengan baik. Aku harus patuh dan menurut dengan segala aturan yang mengekang bahkan jika hati nuraniku tahu itu salah sekalipun. I’m sorry. Jiwa pemberontakku terpaksa mengambil alih. Aku ingin kebebasan. Aku ingin kebahagiaan.

Selama ini aku merasa, jangankan berlari, untuk melangkah maju pun rasanya sulit sekali. Something chains me. Ada yang membelenggu. Cerita ke orang lain atau sahabat sekalipun mereka mungkin akan sulit untuk mengerti. Umumnya mereka hidup bahagia lahir dan batin dengan keluarga utuh. Tak kurang suatu apa pun (okay, ini yang aku lihat sebagai orang luar ya). Cerita ke anggota keluarga? Selama ini mereka yang curhat ke aku. Dan aku harus selalu siap untuk menjadi tempat sampah berisi bola-bola kertas hasil coretan pena bertuliskan keluh kesah mereka (maklum cewek semua. Yang nggak kayak cewek ya aku). Dan setelah mendengarkan keluh kesah mereka aku pasti akan mengurungkan niatku untuk curhat. Aku harus tampak lebih kuat dan tangguh di hadapan mereka. Aku kan kepala keluarga sekarang. Ingat, Ki, everyone is counting on you. So, bersyukurlah kalian, temen-temen cewek atau cowok yang masih dapat curhat dengan dan meminta bantuan orangtua kalian.

I’m stuck. Dan aku tidak bisa harus begini terus. Aku harus memberontak. Aku harus membuat gebrakan. Suatu keputusan yang pada akhirnya bukan hanya untuk kebaikan orang-orang terdekat, tapi juga untuk kebaikanku sendiri. Kan jadi sama-sama bahagia. Aku ingin menggapai impian yang telah lama kupendam. Beberapa hal yang telah kucita-citakan sejak kecil.

Jika Anda memiliki potensi dan jalan untuk keluar dari lingkaran penderitaan, mengapa Anda memilih untuk tetap berada di dalam lingkaran itu untuk selamanya?

Postingan kali ini terdengar begitu serius ya. Ini memang hasil berkontemplasi setelah banyak kejadian yang menimpa hidupku. Keputusanku sudah bulat. Dan ini juga tidak akan terjadi jika bukan atas kehendak Tuhan. Manusia harus terus berubah dan beradaptasi untuk bertahan hidup kan? Jika tidak, dia akan berada di bawah rantai makanan lalu punah (bahasanya terlalu ekstrem, hahah). Wish me luck!

Ok. Peace for the world.

Advertisements

~ by Rizki on June 27, 2010.

One Response to “Re-arranging My Life”

  1. good luck… May you find your happiness that you always dream of…..
    Errr….sbnrnya sy termasuk org yg selalu dicurhati orang lain, termasuk keluarga, tapi ga bisa curhat ke orang lain…. terkadang jd ”tempat sampah” memang memuakkan…but if it makes others happy, it seems I don’t have other choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: