.STUCK.(in Wonderland)

Have you ever feel stuck on your life? When you feel like you can not go forward and even worse, backward? I don’t know if that’s the precise term or not, but what I meant is when you live your own life without feel free and no one respect you. Okay, I know it sounds too tragic, hahah. But, I kinda feel that way right now. Well, I don’t know, sepertinya gejala O.C.D., impulsive, dan disorder lainnya serta skeptisisme gw lagi kambuh nih, heheh. But, I’ve been thinking… Well, kalo kalian sempet baca postingan gw sebelumnya yang membahas sedikit tentang pilem Amrik indie berjudul Shelter, kalian akan mengerti maksud tulisan gw yg sekarang.

Setelah gw nonton ulang lagi tuh pilem, gw sangat paham konflik batin yg dialami tokoh utamanya yg bernama Zach. Secara keseluruhan, storyline nya bagus, berbobot, dan sangat psikologis, bukan tipikal pilem drama dengan kisah a la soap opera gitu (back off, Hollywood! Hahah). Gw paham kebingungan si karakter utama mengenai tugas, tuntutan, dan tanggung jawab yang dialaminya. Gw paham beban berat yang dipikulnya, dan dalam postingan sebelumnya gw bersyukur beban yang gw pikul tidak seberat beban yang dipikul olehnya. Gw paham keinginan dia untuk selalu membantu keluarganya meski harus mengorbankan kepentingan pribadinya. Gw paham kelelahan dia untuk menjadi orang yang selalu diandalkan. Dan gw paham bagaimana perasaan dia yang merasa terperangkap dalam situasi tersebut tapi tidak mampu untuk lari atau kabur dari lingkaran tersebut. Dan, last but not least, gw juga paham betul betapa dia ingin orang lain setidaknya menghargainya sedikit saja atas usaha dan pengorbanannya itu, serta menghargai siapa dirinya, yang sulit sekali ia dapatkan. Hahah, tipikal novelis neh, mengamati kondisi psikologis karakter fiksi. But, you know what, I kinda feel those way.

Gw bukan manusia sempurna yang bisa berubah menjadi apa yang diinginkan oleh orang lain. Gw gak suka make-up, girly fashion, hi-heels or whatever, jadi kenapa gw harus memaksakan diri harus suka dengan hal yg disukai orang lain tapi gw sendiri gak suka? Tidak ada anak kembar yang sama persis, so, apalagi yang tidak ada pertalian darah sama sekali. Kenapa society kita koq ribet sekali mengatur orang-orang ya? Gw bosen dengan segala tuntutan harus begini or begitu tanpa respek sama sekali. Gw lelah untuk menjadi orang yang selalu diandalkan di mana pun dan kapan pun. Gw muak untuk selalu tampil sempurna di hadapan orang lain dan terpaksa memalsukan diri bahwa gw juga sesungguhnya punya banyak  cacat or kekurangan. Gw merasa kesulitan dengan dunia kerja. Kenapa obrolan yang terkait dengan status sosial selalu jadi topik penting di antara mereka? Gw gak pernah peduli akan hal itu karena dari kecil gw dididik untuk berteman dengan siapa saja tanpa memandang status sosial, ras, agama, budaya, etc. Tapi ketika gw lebih memilih diam, gw sering disangka sombong dan gak mau bergabung. Jyaah, gw pusing.

Gw bukan anak manja dari keluarga kaya yang punya segalanya dan tiba-tiba merasa kesulitan untuk bergaul atau bersosialisasi ketika terjun ke masyarakat. Gw justru dididik keras nyaris secara militer oleh alm. bokap gw (nyaris lengkap dengan disuruh push-ups dan sit-ups setiap hari Minggu pagi. Hahah. Maksudnya sih disuruh olahraga gitu, tapi memang begitulah beliau). Sumpeh, gak ada celah or suasana santai sedikit pun untuk bermanja-manja dengan bokap seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Prinsipnya nyaris no pain no gain. Gak heran gw juga jadi keras kepala dan secadas sekarang, terutama setelah beliau pergi. Since he died, I got his gene (hey, I used to be a nice kid before! Hahah. LOL). Tapi, meski begitu, beliau mengenal arti dari kata “respect” dan “discipline”. Dan sulit sekali bagi gw menemukan dua kata tersebut ketika mulai terjun ke masyarakat dan dunia kerja. Bah. Welcome to the real world!

Or… Welcome to Wonderland! Gw belom nonton Alice in Wonderland versi terbaru besutannya Tim Burton, tapi fiksi-fantasi surealis karya Lewis Carroll yang dulu katanya pernah mengundang kontroversi ini makna filosofisnya sekompleks hidup gw sepertinya. Wonderland merupakan dunia tempat di mana Alice yang naif menginginkan hidup yang bukan seperti kehidupan di dunianya di mana dia dituntut harus selalu sempurna. Namun, ternyata, Wonderland yang bukan dunia nyata sesungguhnya adalah representasi dari dunia nyata itu sendiri. Jadi, pesan moralnya adalah, ke manapun kau pergi, kau gak bakal menemukan kehidupan dan dunia seperti yang kau inginkan. And, don’t be such a naive. Dunia itu tidak ramah. And there is always gray area exists, not only white nor black. So, Alice yang sebelumnya naif and nice girl, sekembalinya dari Wonderland menjadi rebel karena dia jadi lebih paham dunia yang sesungguhnya itu seperti apa. Hmm… Koq gw banget ya…? Hahah. LOL.

Well, in simple words, I don’t need somebody who says, “I need you” or “I’m counting on you”. I need somebody who says, “You can counting on me”, or “I’ll help you. You can trust me, I promise”, or at least, “I’m so proud of you.”

Just a thought to put in a trash. Thanks to read this post anyway.

Listen to : Owl City – Fuzzy Blue Lights

Advertisements

~ by Rizki on March 29, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: