Punk Subcultures and Straight Edge

Actually, I’m rather confused to write the title of this article. But, all that appeared in my head was those terms, so I’ve decided to use them as the title. And, I would write in Indonesian, because I think there are many informations about those terms around the internet in English already. And those terms are already familiar in English-spoken countries and Western cultures as a part of their historical-subcultures lifestyles and music, so if I wrote it in Indonesian I hope this article could give useful and philosophical-comprehensive informations for the local readers.

Secara singkat, Punk memiliki gaya tersendiri dalam bermusik, ideologi, fashion, hingga seni visual. Dimulai pada akhir ’60an, band rock seperti The Stooges dan MC5 mulai memainkan musik rock ‘n roll yang lebih keras dan agresif (terkadang disebut protopunk) sebagai respons kontra-budaya terhadap komersialisasi kultur hippies. Band-band seperti Ramones dan Television terinspirasi protopunk tersebut dan dari sinilah scene punk mulai terbentuk pada pertengahan tahun ’70an di AS dan Inggris. Punk atau punk rock ini merupakan spesifikasi dari musik rock. Punk sendiri memiliki percabangan seperti Hardcore, Pop Punk, Gothic, bahkan Emo, dst.

Untuk fashion, secara garis besar punk identik dengan aksesoris, make-up, tato maupun piercing, dan gaya berpakaian mulai dari ala Vivienne Westwood sampai gaya street punk. Untuk fashion ini, menurut sumber yang terpercaya (dapat dilihat di sini), terbagi menjadi:

  • Orisinal Punk

Ciri gaya busananya antara lain Doc Martens boots, sepatu Converse lusuh, jeans sobek atau celana ketat yg dikombinasikan dengan T-Shirt sobek dan aksesoris logam. Gaya rambut mohawk dengan warna-warna mencolok. Aksesoris lainnya berupa paku, peniti, piercings. Jaket kulit dengan tulisan nama band atau simbol-simbol yang ditulis dengan spidol juga sering digunakan. Banyak kaum punk perempuan berontak melawan imej tipikal perempuan saat itu dengan memadukan pakaian berkesan anggun dan maskulin secara bersamaan, contohnya rok ballet dengan sepatu boots.

  • Anti-Fashion Punk (Hardcore 1980an)

Tidak ada merek fashion apa pun. Jeans, celana khaki, sepatu sol karet murah, warna yg tidak mencolok serta aksesoris yg minimalis merupakan bentuk pemberontakan terhadap fashion orisinal punk. Minor Threat dan Black Flag merupakan contoh band yg merepresentasikan gaya ini.

  • Punk tradisional

Mirip dengan gaya orisinal punk, namun lebih diwarnai dengan ideologi dan logo atau simbol pandangan politik mereka. Pengaruh DIY (Do It Yourself) sangat kuat dimana busana yg mereka kenakan biasanya dibuat oleh mereka sendiri.

  • Hardcore

Hardcore modern ini berbusana biasa saja, cenderung lebih bebas dan tidak terikat dengan gaya lainnya, misalnya jeans dan T-Shirt band atau hoodies.

  • Crust Punk

Cirinya adalah aksesoris yang mencolok, T-Shirt sobek, pakaian yang jarang dicuci, dan dreadlock merupakan gaya rambut yang cukup populer.

  • Deathrock-Horror Punk-Gothic

T-Shirts, emblem, pin, korset, dan make-up yg detail. Hitam adalah warna yang dominan.

  • Skate Punk

Terbagi dua. Yang pertama adalah skate punk tradisional yg tidak mementingkan fashion. Topi bisbol, jeans atau celana pendek sobek, dan selalu berhubungan dengan skateboard.

Yang kedua mirip dengan pop punk. Celana panjang lurus atau baggy dengan hoodies yg bervariasi.

  • Grunge

Busana outdoor simpel, kemeja flanel, jaket denim, jeans sobek.

  • Pop Punk

Sepatu Converse All-Star atau sepatu skate, celana bermotif kotak-kotak, T-Shirt dipadukan dengan dasi atau syal, sarung tangan yang dipotong pada bagian jari, blazer. Rambut panjang lurus bagi perempuan dan spikey bagi pria. Green Day, Good Charlotte, Simple Plan, dan Avril Lavigne merupakan contoh trendsetter pop punk ini.

  • Emo-Scenecore

Yang ini merupakan subkultur yang terbaru dari punk saat ini (meski punkers banyak yg tidak mau mengakui hal ini. Hahah… Peace ah). Emo identik dengan tipikal anak muda yang pendiam, sensitif, freak atau (maaf… Maaf banget…) losers yang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan mereka dengan lebih ekspresif dan hal itu direpresentasikan dalam musik serta gaya berpakaian mereka. Ini sudah sering dibahas di blog gw. Selain gaya berpakaian yang cenderung lebih kalem dan modis dibandingkan subkultur punk lainnya (istilah yg biasa gw pake sih… “Rapi tapi cadas”… Heheh), for the rest of things, just read my previous posts, ok?

Tapi sebenarnya yg mau gw bahas di sini yaitu ideologi dari punk, terutama Straight Edge. Ideologi punk itu sendiri sesungguhnya cukup banyak, tapi yang akan dibahas dengan porsi lebih besar di sini yaitu Straight Edge. Selain Straight Edge, ideologi punk lainnya yaitu Anti-otoriterisasi, Anti-kemapanan, Anti-militer, Kesetaraan gender (gender equality), Sekulerisme dan spiritual (sebagian memilih untuk sekuler bahkan atheis, sebagian lagi menganggap bahwa tidak ada kontradiksi menjadi seorang punk yg juga religius. Christian punks eksis, begitu pula dengan Moslem punks di Malaysia yg gaya hidupnya dekat dengan Straight Edge), Anti-Nasionalisme (menganggap bahwa nasionalisme merupakan bentuk kesetiaan yang tak beralasan karena toh pemerintah juga tidak peduli dengan kesejahteraan rakyatnya), Anarkisme, DIY (Do It Yourself alias mandiri or independent), Food Not Bombs (Uang untuk makanan, bukan untuk bom), Anti-media, Environmentalisme (peduli masalah lingkungan), hingga yang terakhir, Vegetarianisme-Veganisme-dan perlindungan terhadap hak-hak binatang.

Vegetarianisme tersebut sangat dekat dengan gaya hidup Straight Edge yg menolak alkohol, drugs, rokok, bahkan free sex. Vegan Reich, band metalcore AS penganut paham veganisme merupakan band yg tergolong dalam Moslem punk.

Straight Edge (terkadang disingkat sXe, SxE atau Edge) adalah komitmen yang sangat dekat hubungannya dengan scene hardcore-punk. Beberapa penganut Straight Edge menolak bentuk apa pun dari obat, termasuk kafein dan painkiller, dan pada banyak kasus menolak konsumsi terhadap hewan (vegetarianisme-veganisme). Straight Edge pertama kali terinspirasi dari band hardcore-punk, Minor Threat, kemudian menyebar ke penjuru dunia. Meskipun Straight Edge bukanlah pergerakan sosial-politik, banyak yang mengaitkannya dengan anarkis, sosialis, atheis, enviromentalis, vegetarianisme/veganisme dan pergerakan deep ecology.

Dalam buku Our Band Could Be Your Life, Ian MacKaye mengatakan bahwa pertengahan dan akhir 1970an, dia dan teman-temannya sering tidak bisa menonton gig karena digelar di klub-klub sekitar Washington DC yang menyediakan minuman beralkohol dan melarang anak di bawah umur untuk memasukinya. Musisi rock, Ted Nugent, merupakan panutan awal Mackaye dan teman dekatnya, Henry Rollins. Pada saat itu lumrah bagi seorang rocker mengkonsumsi drugs dan alkohol, Nugent memproklamirkan dirinya bebas alkohol. Band Mackaye, The Teen Idles, tur keliling Pantai-Barat pada 1980. Pemilik klub Mabuhay Garden di San Fransisco melarang The Teen Idles bermain karena semua anggota band masih di bawah umur untuk mengkonsumsi alkohol. Sebagai jalan tengah akhirnya pemilik klub menulis tanda ‘X’ besar pada punggung tangan anggota band sebagai pertanda bagi bartender agar tidak menjual minuman beralkohol kepada mereka.

Sekembalinya ke Washington, D.C., Mackaye menawarkan cara yang sama kepada para pemilik klub agar remaja seusianya bisa masuk dan tidak mengkonsumsi alkohol. Beberapa klub menerima penawaran tersebut, kemudian tanda ‘X’ (terkadang ditulis dengan tanda ‘xXx’) di tangan perlahan menjadi simbol pergerakan melawan alkohol dan obat-obatan. Album The Teen Idles, Minor Disturbance menjadi titik awal munculnya Straight Edge dalam scene hardcore-punk. Nama Straight Edge sendiri diambil dari judul lagu band kedua Mackaye, Minor Threat, pada awal 1980an. Gaya hidup ini mulai berkembang pesat setelah kampanye yang disuarakan oleh band ini lewat lagu-lagu seperti “Straight Edge” dan “Out of Step”.

straight-edge

Kurang-lebih, begitulah informasi yg semula ingin saya sampaikan. Sudah lama saya ingin menulis artikel tentang Straight Edge ini, tapi ternyata membutuhkan riset yg mendalam terlebih dahulu, heheh. Semoga tulisan ini bermanfaat. You can call me idealist, while your hits will never break me down. Idealisme itu perlu. Tanpa idealisme, maka matilah generasi muda. But remember, don’t disturb anything that doesn’t disturb you. Fair enough, isn’t it? 🙂

References:

http://www.wikipedia.com

Asri, Gifran Muhammad. 2008. Potret Positif Punk Bandung. Bandung: Institut Teknologi Bandung. (http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-gifranmuha-30613&q=potret%20positif%20punk).

Advertisements

~ by Rizki on May 15, 2009.

2 Responses to “Punk Subcultures and Straight Edge”

  1. thanks a lot for the info..:D

  2. Ur welcome… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: