Classical Crossover vs Hardrock Metal

classic-vs-metal

A very complete paradox. That’s what I can say. It has been a long time gw ga nonton video konser musik. Jadilah begitu long vacation, gw browsing ke sebuah toko dan menemukan dua DVD yang sangat berbeda tersebut and I bought them. Btw, libur ini gw ga pulang karena gw masih belum fit untuk melakukan perjalanan jauh. Actually, I’ve planned to edit and do finishing touch for my novel, tapi karena selama dua minggu gw harus makan makanan yg lembut (selain amandel gw yang radang, ternyata lambung gw juga kena) seperti bubur (and no dairy products for a while!), gw jadi agak lemes untuk melakukan aktivitas fisik maupun aktivitas yang mengandalkan otak untuk berpikir yang berat-berat. So, I think, in this vacation I would treat myself to do something that entertain and keep my mind, body, and soul relax.
I’ve explained that my favourite kind or genre of music is very complex (read my 100 Things About Me), from classical symphony to punk-emo-rock-hardcore. And what would happen if I watch and listen to those contradiction genres (classic and metal) at the same day? I would say it as a classical crossover hardrock metal.
A very unusual experience I would say. Lumayanlah untuk memperluas wawasan dan referensi musik. Apalagi at the end of the year. Kita harus menjadi orang yang progresif, ya kan? Mungkin orang-orang umumnya hanya menyukai salah satunya saja. Classical person only. Or metal person only. But, why don’t you think that you could be both? Again, tampaknya representasi dari sisi androgyny gw juga neh. Classical music for my feminine side, and hardrock metal for my masculine side.
I would review about Sarah Brightman’s Symphony Concert Live in Vienna 2008 first (anyway, ladies first ^ ^). OMG, such a beautiful and amazing voice she has! This soprano diva always rocks my socks (whatever that means…)! Her voice has been caught my ear (hahah…) since I listened her legendary hit Time to Say Goodbye. Di DVD ini juga dia menyanyikan lagu fenomenal tersebut in solo version (biasanya kan duet bareng Andrea Bocelli). But of course the main songs that she sang are songs from her latest album, Symphony. Yang menakjubkan pula, konser ini dilakukan di dalam katedral, meski ada panggungnya di tengah-tengah balairung katedral tersebut. So, tidak terlalu tampak seperti konser musik diva yang glamour, melainkan tampak agak religius. Tapi memang tipikal konser classical opera pada umumnya, penuh dengan attitude dan tampak cukup formal. Dan ketika dia membawakan lagu Phantom of the Opera, intronya benar-benar menggunakan orgel pada katedral tersebut. Btw, adiknya, Amelia Brightman, juga turun tangan membantu menggarap Symphony. You can see Amelia on the stage as a back-up vocal and additional keyboardist. Secara keseluruhan, keunikan Sarah Brightman adalah suara soprannya yang mampu menjangkau banyak genre musik. Sarah tidak hanya menyanyikan pure opera classical symphony, tapi juga mampu beralih ke musik pop bahkan rock dengan suara sopran mautnya yang dahsyat. So, genre musiknya cukup mampu menjangkau beberapa lapisan khalayak juga. Dan kritikus musik seringkali mengatakan bahwa Sarah merupakan pelopor genre baru in the middle 90’s, yaitu classical crossover, yang kemudian diikuti oleh kuartet gesek Bond dan beberapa musisi lainnya. Bahkan, untuk lagu Fleurs du Mall (one of my favourite song) yang menghentak disebut sebagai termasuk ke dalam genre classical gothic rock (Evanessence dan Lacuna Coil termasuk ke dalam genre yg sedikit lebih agresif dari ini, yaitu gothic metal). Gw memberi poin 8,5 dari 10 untuk DVD konser ini.
Next, let’s talk about Avenged Sevenfold Live in the Long Beach, California 2008. Well, gw juga heran kenapa gw tertarik untuk menonton DVD konser mereka selain karena lagu Afterlife terus terngiang-ngiang di kepala gw. After I know the music video and the original song, gw penasaran juga ingin tahu versi live performance-nya gimana (secara, meskipun mereka pernah dua kali konser di Jakarta, gw ga pernah berminat nonton langsung… heheh. I’m not actually a huge fan of them. I only listen to and enjoy their music). Dan ternyata… gw memang menemukan banyak kejutan di versi live-nya! Misalnya, improvisasi vokal M. Shadows yang prima dan keren banget dari lagu pertama sampai lagu terakhir (tidak tampak kesulitan mengatur napas. Padahal sering teriak-teriak dan banyak banget yang durasi teriakannya sepanjang 7 detik bahkan lebih! Btw, bukannya bermaksud membandingkan, tapi selama ini gw menyaksikan live performance My Chemical Romance, Gerard Way selalu tampak kesulitan mengatur napas kalo manggung…), siapa saja yang ikut menyumbang vokal di lagu tersebut (ternyata… semua personilnya bisa nyanyi dan bersuara keren!), interaksi mereka terhadap audiences yang komunikatif banget (bukan hanya M. Shadows doank yg notabene frontman, tapi semua personelnya… well, kecuali mungkin The Rev, karena dia duduk di balik drums…^ ^), hingga banyaknya kata-kata kasar yg keluar dari mulut mereka dalam lirik lagu maupun saat berinteraksi dengan audiences dan menyadarkan gw bahwa DVD ini memang membutuhkan cap Parental Advisory… hahah (waktu konser di Jakarta begitu juga nggak ya? Tapi sepertinya nggak, gw denger mereka sopan dan hangat… di negeri orang lain soalnya, heheh). Termasuk fakta mengenai para fans cewe di Amrik sono yang edun dan nekat abiz (okay, para cowo pasti lebih cepat tanggap saat membaca kalimat ini…). Tapi, heran, ada anak-anak sekitar umur 11 tahunan juga ikut nonton… Anyway, ternyata biar garang, mereka bisa romantis juga (yah, rocker juga manusia… heheh). Gw suka banget lagu Seize The Day… yang genre-nya lebih tepat disebut sebagai hardrock ballad. Well, I’ve watched the video, it was even the first A7X video that I watch. Again, there’s a funeral scene that caught my eye. Synyster Gates even looks as dark and beautiful as the Angel of Death when he plays his guitar on the coffin. Btw, liriknya terdengar from the bottom of heart, begitu pun M. Shadows nyanyinya penuh perasaan banget… sisi laen M. Shadows yang jarang banget terlihat. Btw, mata gw juga tertuju pada The Rev karena suara tenor dan teriakannya yang mantap dan keren banget… cocok banget disatukan dengan suara berat dan maskulin M. Shadows. The Rev juga cool abiz, orangnya gak banyak omong, tapi dia punya karisma dan mampu bikin nyali orang ciut karena gebukan drum-nya. Synyster Gates juga sangat mencuri perhatian… heheh, selain karena permainan gitarnya yang dahsyat, I mean (btw, tuh gitar sepertinya dah jadi nyawanya ya). Dia yang wajahnya tampak paling tidak garang (meski badannya penuh tattoo juga sih…), in fact, actually he looks very sweet and such a nice person. And he has a great smile. ^ ^ Btw, gw yakin banyak A7X fans yang mungkin belum tahu (bahkan tidak menyangka) bahwa hampir semua personelnya merupakan penganut Katolik Roma. Nama Avenged Sevenfold sendiri bahkan diambil dari Bible, begitupun istilah The Rev yang merupakan kependekan dari The Reverend Tholomew Plague (coba cek Wikipedia untuk lebih jelasnya). Beberapa materi lagu mereka juga diambil dari Bible seperti Beast and the Harlot, Dear God yang touchy banget (nuansa baru untuk A7X), A Little Piece of Heaven yang campuran nuansa teater Broadway dan lagu gospel (though the lyrics and video are weird…), dan fenomena afterlife hanya dipercaya oleh para penganut agama tertentu (Christianity, Islam, Judaisme, Budhha. Coba cek Wikipedia). Meski begitu mereka pernah memberikan statement bahwa mereka bukan band religius (whatever that means…). Btw, what I like the most about A7X is that they are brutal and wild, but they are also kind-hearted and warm. And, in fact, they are actually diciplined and hardworkers. So, based on review yang dah gw berikan, gw memberi poin 9 dari 10 untuk DVD konser ini.
Last, but not least, sempat terbersit di benak gw what would happen if Sarah Brightman and A7X collaborate and work together? It would be very interesting, I think… combine the classical and metal music as one. Classical crossover with hardrock metal. Duet version between M. Shadows’ heavy and masculine voice with Sarah Brightman’s sopran and amazing feminine voice would be very awesome and spectacular. M. Shadows’ scream and Sarah Brightman’s high vibran! What could be more amazing than that? Well, it’s just my own opinion (probably one of them would read this blog and then they’d take this challenge… heheh. Probably duet version of Seize The Day or Fleurs du Mall…? Ya know, sing each other songs in duet version). But, if that happen, I would suggest to A7X (no offense, please) to control their attitudes in front of her… ^ ^

Advertisements

~ by Rizki on December 29, 2008.

One Response to “Classical Crossover vs Hardrock Metal”

  1. sayangnya herman sukanya slowrock…Benyamin gitu deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: